safana

saka flora & fauna

Mereka bagi Kita

Biologi & Ekologi

Elang Jawa
Badak Jawa
Gajah Sumatera
Komodo
Harimau Sumatera
Cendrawasih Merah
Pesut Mahakam

Elang Jawa

Burung pemangsa yang menjadi Maskot Bangsa Indonesia. Simbol kewibawaan dan keperkasaan yang terabaikan.

"Dan tak ada seekor binatang pun di muka bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka umat-umat (juga) seperti kalian. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka akan dikumpulkan." (QS. Al-An'am: 38)

  • Kerusakan
    Tangan Manusia

    "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat tangan manusia."

  • Udara
    Polusi Udara

    Polusi udara dari emisi kendaraan, industri dan sisa-sisa pembakaran

  • Tanah
    Badlands

    Eksploitasi lahan tambang tanpa mempertimbangkan keberlangsungan

  • Air
    Pencemaran Air

    Pencemaran sungai & laut oleh sampah, limbah hingga konflik bersenjata

  • Api
    Firestarter

    Pembakaran hutan demi pembukaan lahan pertanian, perkebunan dan hunian

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, janganlah berbuat kerusakan di muka Bumi, mereka berkata, "Sesungguhnya kami adalah pelaku perbaikan." Ingatlah! sesungguhnya mereka adalah pembuat kerusakan akan tetapi mereka tidak menyadarinya." (QS. Al-Baqarah: 11-12)
Safana-SAH

Kita bagi Mereka

Khalifah

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, Sesungguhnya Aku akan menjadikan di Bumi seorang Khalifah."

Kita adalah Mereka

Tauhid

  • 1 Egocentrism
  • 2 Antropocentrism
  • 3 Biocentrism
  • 4 Ecocentrism

5
⸻ Teocentrism ⸻

Kita berasal dari-Nya

"Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka masih juga tidak beriman"

Animated translucent gold-toned metaball blobs gently merging and splitting like water molecules

⸻ Teocentrism ⸻

Kita kembali kepada-Nya

كل نفس ذائقة ٱلموت ۗ ونبلوكم بٱلشر وٱلخير فتنة ۖ وإلينا ترجعون

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”

QS. Al-Anbiya: 35

Safana-SAH

Ringkasan Penjelasan QS. Al-Baqarah: 11-12 (Tafsir Al-Mishbah)

Inti Penjelasan

Ayat ini berbicara tentang kaum munafik—mereka yang mengaku beriman tetapi hatinya menyembunyikan kekafiran. Ketika ditegur agar tidak berbuat kerusakan (ifsad), mereka justru membanggakan diri sebagai “pelaku perbaikan” (muslih). Allah membantah klaim palsu mereka: sesungguhnya merekalah perusak sejati, hanya saja mereka tidak menyadarinya karena hati mereka telah tertutup.

Poin-Poin Penting

AspekPenjelasan Singkat
Siapa yang dimaksudOrang munafik yang mengaku beriman namun hatinya kufur
Makna kerusakanMenolak kebenaran, mengorbankan nilai agama, maksiat, mengganggu ketertiban umum, merusak fitrah tauhid 
Makna perbaikan yang diklaimHanya kata-kata kosong tanpa bukti nyata 
Ketidaksadaran merekaHati tertutup sehingga menganggap buruk sebagai baik; puncak kebodohan dan kesombongan

Kesimpulan Ringkas :

Perusak terbesar adalah mereka yang mengaku berbuat baik tapi justru menghalangi kebenaran, karena mereka tidak sadar sedang merusak—inilah bahaya terbesar kemunafikan.

Referensi :

Penjelasan ini terdapat dalam Tafsir Al-Mishbah, Jilid 1, pada penafsiran QS. Al-Baqarah ayat 11-12

Inti Tafsir "Khalifah di Bumi" – Sayyid Quthb

Khalifah berarti wakil dan duta Allah di bumi. Manusia ditunjuk bukan sekadar berkuasa, melainkan untuk menjalankan kehendak Ilahi: mengolah bumi, memakmurkan alam (imarah), dan menegakkan syariat.

Dialog Malaikat menggambarkan keraguan mereka terhadap potensi buruk manusia (rusak & tumpah darah). Allah menjawab, “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” – artinya, di balik potensi negatif, manusia menyimpan kapasitas besar untuk kebaikan, kemajuan, dan perubahan dinamis yang tak bisa dicapai makhluk lain.

Amanah kekhalifahan adalah ujian, bukan hasil rebutan. Pemimpin wajib menegakkan keadilan. Jika berbuat kerusakan, ia sedang diuji, bukan menjalankan amanah.


Referensi Kitab

  • Kitab: Fi Zhilalil Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an)
  • Jilid: 6
  • Halaman: 3386–3387
  • Penerbit: Dar asy-Syuruk, Beirut, 1996

Memahami 4 Cara Pandang Dunia: Dari Egosentrisme hingga Ekosentrisme

Dalam studi etika lingkungan dan psikologi, cara manusia memandang dirinya terhadap alam semesta sangat menentukan tindakannya. Spektrum ini bergerak dari sudut pandang yang paling sempit (fokus pada diri sendiri) hingga yang paling luas (fokus pada seluruh ekosistem).

1. Egocentrism (Egosentrisme)

“Dunia Berputar di Sekitar Saya”

Egosentrisme adalah kondisi psikologis di mana seseorang melihat dunia murni dari sudut pandang dan kepentingan pribadinya. Orang dengan pandangan ini kesulitan memahami perspektif atau kebutuhan orang lain, apalagi lingkungan sekitar. Inti Pemikiran: Kepuasan, keuntungan, dan kelangsungan hidup individu adalah prioritas utama. Dampak Lingkungan: Sangat merusak. Alam hanya dieksploitasi demi kenyamanan pribadi sesaat tanpa memikirkan dampak jangka panjang atau hak makhluk lain.

2. Anthropocentrism (Antroposentrisme)

“Manusia adalah Pusat dari Segala Sesuatu”

Antroposentrisme adalah etika lingkungan yang menempatkan manusia sebagai makhluk paling penting di alam semesta. Alam dan makhluk hidup non-manusia (hewan, tumbuhan, sumber daya alam) dinilai berharga hanya jika mereka memberikan manfaat atau nilai guna bagi manusia (instrumental value). Inti Pemikiran: Manusia adalah penguasa alam; kelestarian alam penting hanya demi menjamin kelangsungan hidup generasi manusia masa depan. Dampak Lingkungan: Bisa memicu eksploitasi besar-besaran (industrialisasi tak terkendali), namun bisa juga melahirkan gerakan konservasi yang bersifat “utilitarian” (menjaga hutan agar pasokan air manusia tidak habis).

3. Biocentrism (Biosentrisme)

“Semua Makhluk Hidup Memiliki Hak yang Sama”

Biosentrisme mendobrak batasan antroposentrisme dengan menyatakan bahwa semua makhluk hidup memiliki nilai intrinsik, terlepas dari apakah mereka berguna bagi manusia atau tidak. Setiap organisme—mulai dari manusia, paus, hingga bakteri terkecil—memiliki hak untuk hidup dan berkembang. Inti Pemikiran: Kehidupan (bios) adalah pusatnya. Manusia bukan penguasa, melainkan setara dengan warga komunitas kehidupan lainnya. Dampak Lingkungan: Mendorong perlindungan hak-hak hewan (animal rights), pola makan berbasis tumbuhan (vegetarian/vegan), dan penolakan terhadap kekejaman pada hewan atau penebangan pohon secara sembarangan.

4. Ecocentrism (Ekosentrisme)

“Keseimbangan Seluruh Ekosistem adalah yang Utama”

Ekosentrisme adalah pandangan yang paling luas dan holistik. Perspektif ini tidak hanya fokus pada makhluk hidup (biotik), tetapi juga pada komponen tak hidup (abiotik) seperti air, tanah, udara, dan batu. Pusat perhatiannya adalah keutuhan dan keseimbangan seluruh sistem alam (ekosistem). Inti Pemikiran: Bumi adalah satu kesatuan sistem yang saling terhubung. Keberlanjutan seluruh ekosistem jauh lebih penting daripada kepentingan satu spesies tunggal (termasuk manusia). Dampak Lingkungan: Melahirkan gerakan Deep Ecology (Ekologi Mendalam), restorasi alam skala besar, dan kebijakan hukum yang mengakui hak-hak alam (seperti sungai atau gunung yang dilindungi hukum secara utuh).

⸻ Rangkuman Perbandingan ⸻

1
Egocentrism
Pusat Perhatian: Diri sendiri (Individu)
Penilaian terhadap Alam: Hanya alat pemuas kebutuhan pribadi
Contoh Perilaku: Membuang sampah sembarangan demi kenyamanan sendiri.
2
Anthropocentrism
Pusat Perhatian: Manusia (Spesies)
Penilaian terhadap Alam: Berharga jika bermanfaat bagi manusia
Contoh Perilaku: Menjaga hutan agar manusia tidak terkena bencana banjir.
3
Biocentrism
Pusat Perhatian: Semua Makhluk Hidup
Penilaian terhadap Alam: Setiap organisme hidup bernilai intrinsik
Contoh Perilaku: Menolak uji coba kosmetik pada hewan (cruelty-free).
4
Ecocentrism
Pusat Perhatian: Seluruh Ekosistem
Penilaian terhadap Alam: Seluruh sistem alam wajib dijaga keutuhannya
Contoh Perilaku: Melindungi kawasan hutan adat beserta sungai dan gunung di dalamnya secara total.
Kesimpulan Esensial: Transisi dari Egocentrism menuju Ecocentrism mencerminkan perluasan kesadaran moral kita. Memahami keempat konsep ini membantu kita merefleksikan kembali: Di titik manakah cara pandang kita saat ini dalam memperlakukan Bumi tempat kita tinggal?

3 Tingkat Upaya

Memperbaiki yang belum baik dan menigkatkan yang sudah baik dengan cara sebagai berikut: